Jurnal Kampus

Sekretariat : Jl. Brigjend H. Hasan Basry Gedung Fakultas Ekonomi Ruang BEM Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Telp.( 0511) 305116 (ext) 124. Berbicara, Berpendapat, Bertukar pikiran, berdiskusi dan Bersama Mencari Solusi
 
IndeksPortalCalendarGalleryFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Kenapa BBM sih harus naik lagi?

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
rahiem
Vice Admin
Vice Admin


Jumlah posting : 6
Age : 33
Lokasi : Bandung
Registration date : 16.05.08

PostSubyek: Kenapa BBM sih harus naik lagi?   Fri May 23, 2008 11:29 am

Kenaikan BBM tahun ini, mulai
berlaku pukul 00.00 WIT / WITA / WIB tanggal 24 Mei 2008, dengan kenaikan
rata-rata 28,70 %, akibat dari dicabutnya subsidi harga jual BBM, benar-benar
membuat kekisruhan di negeri ini.
Mulai
dari demo penolakan kenaikan BBM yang hampir setiap hari terjadi di seluruh
bagian wilayah di Indonesia
hingga kelangkaan BBM akibat penimbunan BBM yang dilakukan oleh oknum yang
memanfaatkan kesempatan. Ketika isu kenaikan BBM berhembus (sekitar 2 minggu lalu),
beberapa barang-barang sudah ada yang naik harganya.
Tentu saja hal ini membuat
rakyat semakin susah dan menderita.






SBY sebagai pemimpin negeri ini, benar-benar
dihadapkan pada situasi sulit. Pencabutan subsidi harus dilakukan, karena
menurut laporan bahwa subsidi tidak benar-benar dinikmati oleh sebagian besar
masyarakat bawah, tetapi dinikmati oleh orang-orang yang berduit (jadi memang
benar-benar salah sasaran kan?).
Kenaikan juga harus dilakukan karena tekanan dunia internasional akibat harga
minyak dunia yang mengalami kenaikan harga. Langkah ini diambil oleh SBY,
meskipun sebenarnya dia mengorbankan popularitasnya sebagai presiden yang
dipilih langsung oleh rakyat.
Kemungkinan besar rasa simpatik masyarakat akan berkurang
akibat dari kejadian ini. Hal ini memang patut dicermati, karena pidato
presiden SBY pada Milad PKS (Partai Keadilan Sejahtera) beberapa minggu yang
lalu di Gelora Bung Karno, mengatakan bahwa pemerintah tidak akan menaikkan
harga BBM.



Dilihat dari kacamata politik,
ada perbedaan pemerintahan saat ini dengan pemerintahan terdahulu dalam
mengumumkan kenaikan harga BBM. Ketika pemerintahan dulu (pemerintahan Alm. H.M
Soeharto), kenaikan BBM langsung diumumkan resmi kepada masyarakat, sehingga
tidak menimbulkan situasi yang ‘ngambang’ dimasyarakat, tidak banyak demo yang
terjadi (memang demonstrasi jaman dulu tidak sebebas sekarang), serta para
oknum tidak sempat mempermainkan kondisi pasar dengan menaikkan harga terlebih
dahulu. Pada saat pemerintahan sekarang ini adalah kebalikannya. Kembali lagi
kita bertanya pada hati nurani kita, siapakah yang paling dirugikan? Tentu saja
rakyat kecil, bukan rakyat ‘besar’, bukan orang yang berkantong tebal, bukan
anggota DPR/DPRD yang duduk di atas kursi empuk, bukan pula pejabat-pejabat
yang berkantor di gedung yang sejuk karena ada AC-nya.



Bersamaan dengan kenaikan harga
BBM ini, pemerintah mulai mendistribusikan kartu BLT (Bantuan Langsung Tunai)
kepada rakyat miskin (siapa saja sih yang miskin itu??) sebagai kompensasi atas
kenaikan BBM setelah sempat ‘istirahat’ di tahun 2006 dan 2007. Apakah itu
solusi terbaik?



Menurut opini masyarakat bawah
(jika diberi pilihan), mereka lebih memilih harga BBM tidak naik, sehingga
tidak berdampak luas pada kenaikan harga barang terutama barang kebutuhan pokok.
Terutama pada saat isu kenaikan
berhembus, beberapa barang kebutuhan pokok sudah ada yang naik. Meskipun tidak
menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai), asalkan kondisi harga barang tidak
mengalami kenaikan, itu lebih baik daripada harus mengalami kenaikan
bermacam-macam barang karena kenaikan harga tidak dapat tertutupi oleh BLT
(itupun bagi yang mendapatkan kartu BLT). Bila kenaikan BBM terjadi, ada satu
kondisi yang lebih menyedihkan yaitu warga yang benar-benar tidak mampu/miskin
tidak mendapat kartu BLT (kemungkinan disebabkan kesalahan proses pendataan,
dll). Keadaan akan semakin parah apabila kartu BLT tidak tepat sasaran. Pada
saat kondisi stabil saja (belum ada isu kenaikan BBM), banyak penduduk di
negeri ini yang sudah menderita karena hidupnya berada di bawah garis
kemiskinan, apalagi diperparah dengan kondisi saat ini. Anda, saya dan kita
semua sebagai manusia yang memiliki hati nurani, dapatkah kita merasakan
penderitaan seperti apa yang mereka rasakan saat ini?



Menurut sebagian orang (kata yang berdemo menolak
BLT), pemberian BLT kepada masyarakat adalah pembodohan. Kalau kita kaji lebih
dalam lagi, pendapat ini memang masuk akal. Pemberian BLT sebenarnya memang tidak
tepat. Lagi pula duit yang besarnya ‘hanya’ Rp. 100.000,- perbulan sebenarnya
tidak mencukupi sebagai kompensasi atas kenaikan harga barang-barang akibat imbas
kenaikan BBM. Masyarakat lebih memilih tidak menerima BLT, tetapi tidak ada
kenaikan harga barang kebutuhan. Jika harus diberikan juga, menurut Sultan
Hamengkubuwono X bahwa pemberian BLT sangatlah tidak tepat, tetapi lebih baik
memberikan modal padat karya. Mengingat perilaku ekonomi kebanyakan orang Indonesia
adalah tipe konsumtif, tidak tipe produktif.



Bahkan ada di beberapa daerah, para lurah/kepala desa
sepakat untuk menolak BLT ( tidak mau duit nih…). Mungkin orang awam akan
berpendapat, bodoh sekali sih mereka yang menolak duit. Tetapi langkah ini
sebenarnya tepat, karena mereka sudah memperhitungkan akibat-akibat yang akan
terjadi bila pemberian BLT tetap dilakukan. Hal ini dapat dilihat dari kasus
pembagian BLT tahun 2005 lalu yang banyak terjadi kekacauan pada saat proses
pembagian dana BLT.






Akankah kita dapat melewati
situasi dan kondisi saat ini dengan selamat???






(Writed & Posted by Abdurrahim; Bandung, May 24th, 2008 )
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://karindangan.blogspot.com
 
Kenapa BBM sih harus naik lagi?
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Jurnal Kampus :: Hot News Update :: Hot News Update-
Navigasi: